19 Maret 2018

The White Book, Han Kang




Saya tergelitik oleh tulisan Andina Dwifatma di blognya tentang hal-hal yang hanya bisa ditulis oleh penulis perempuan. Secara khusus di postingan tersebut Andina membahas cerita-cerita Alice Munro, peraih Nobel Sastra pertama yang hanya menulis cerita pendek sepanjang karirnya. Menurut Andina, cerita-cerita Alice Munro merupakan “antitesis terhadap ‘anggapan perempuan pemberontak sebagai premis cerita yang menarik’”.

Saya tidak bermaksud membahas Alice Munro, melainkan pernyataan Andina yang lain di tulisan yang sama, perihal asumsi bahwa ada hal-hal yang hanya bisa ditulis oleh pengarang perempuan. Pernyataan ini kontan membuat saya bertanya, apakah memang ada pula hal-hal yang hanya bisa ditulis oleh pengarang laki-laki? Apakah ada hal-hal yang tidak dapat menembus batas gender? Apakah gender, setelah memunculkan batas-batas norma dan peran sosial yang hingga kini terus berusaha ditembus, ternyata juga membatasi seorang pengarang dari menuliskan hal-hal yang ingin dia tuliskan?

Pertanyaan pertama yang perlu dijawab tentu saja adalah apa yang sungguh-sungguh membedakan perempuan dan laki-laki? Yang seketika terlintas di kepala saya: struktur biologis. Satu-satunya yang membedakan perempuan dan laki-laki adalah jenis kromosom mereka. Perempuan berkromosom homogamet, XX, sementara laki-laki heterogamet, XY, yang membuat keduanya mengalami perkembangan embriologi ke arah yang berbeda. Termasuk kemudian perempuan jadi punya rahim dan laki-laki penis. Perempuan dan laki-laki bahkan sama-sama punya hormon seksual esterogen, progesteron, dan testosteron, hanya dalam kadar yang berbeda. Sisanya? Sama saja.

*

Dalam tulisannya, Andina menyebut Dear Life – Alice Munro dan Ibu Mendulang Anak Berlari – Cyntha Hariadi sebagai contoh karya sastra yang mengangkat tema khas perempuan. Saya bermaksud menambahkan satu, The White Book – Han Kang.

The White Book adalah buku yang akan saya masukkan ke kategori buku yang hanya bisa ditulis pengarang perempuan, jika kategori itu betul-betul ada. Buku ini mengangkat tema yang khas perempuan, yakni melahirkan. Laki-laki tidak bisa melahirkan (iya, kuda laut jantan di baris belakang, saya melihatmu).

Salah satu bagian The White Book menggambarkan perpindahan bayi dari rahim ke dunia. Bab tersebut berjudul “Swaddling bands” mungkin jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia jadi “Kain lampin”.

“Swaddling bands white as snow are wound around the newborn baby. The womb will have been such a snug fit, so the nurse binds the body tight, to mitigate the shock of its abrupt projection into limitlessness.”

Paragraf tersebut diikuti deskripsi tentang perempuan yang pucat karena kehilangan banyak darah, sedang memandangi bayinya yang menangis. Bayi yang pada saat itu “belum tahu cara menyembuhkan tangisannya”. Kalimat-kalimat berikutnya menggambarkan dengan sangat rinci momen-momen emosional yang dialami perempuan ketika melihat bayi pertamanya.

Momen yang mengharukan itu serta-merta berubah drastis menjadi tragedi di bagian selanjutnya, “Newborn gown”.

“My mother’s first child died, I was told, less than two hours into life.

Dalam waktu amat singkat, kelahiran berganti rupa menjadi kematian. Keduanya dialami perempuan yang sama. Sosok yang menjadi tujuan aku-narator dalam tuturannya sepanjang buku, yang adalah anak kedua perempuan tersebut.

 *

The White Book ditulis menggunakan struktur yang mirip The Vegetarian, yakni terbagi menjadi tiga babak. Babak pertama The White Book berjudul “I” berisi narasi tokoh Aku yang mengingat ibunya. Babak kedua, “She” menceritakan kehidupan sang ibu. Yang terakhir, “All Whiteness” menggambarkan pikiran serta perasaan tokoh Aku mengenai, salah satunya, sesuatu yang hilang tapi menghubungkan dirinya dengan sang ibu, yakni almarhumah calon kakak.

Cara Han Kang membagi buku ini ke sub-bab yang pendek-pendek dan menuliskannya dalam narasi yang sangat puitis tapi tetap mengandung alur, tokoh-tokoh, dan adegan yang jelas, membuat buku ini menarik karena tidak betul-betul bisa dimasukkan ke kategori novel, kumpulan cerita, ataupun puisi. Buku ini ketiganya sekaligus. The White Book sesuatu yang segar dan lebih menyakitkan dibanding kedua pendahulunya, The Vegetarian dan Human Acts.

Han Kang menulis The White Book seperti sedang menulis tribut untuk semua perempuan di dunia, meskipun barangkali dia menengok ke sesuatu yang lebih personal, seperti sensasi yang saya rasakan ketika membaca halaman demi halamannya. Walaupun mengangkat tema yang khas perempuan, saya yang laki-laki tidak merasa tersingkir dari dunia yang Han Kang tulis, justru sebaliknya. Saya terisap ke semesta yang asing sekaligus akrab. Tempat saya berasal. Rahim ibunda.

Saya tidak bisa membaca The White Book tanpa sebentar-sebentar berhenti karena perlu mengatur napas. Setiap halamannya seperti mengirim pukulan demi pukulan yang keras ke sekujur perut saya. Ini buku yang menyakitkan, bahkan bagi saya yang tidak akan pernah merasakan hamil dan melahirkan. Bahkan di Twitter saya memberi peringatan bagi perempuan yang ingin membaca buku ini.



Kembali ke pertanyaan awal tulisan ini, adakah hal-hal yang hanya bisa ditulis perempuan sebagaimana ada hal-hal yang hanya bisa ditulis? Saya kira mungkin saja ada. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana seandainya The White Book ditulis oleh, misalnya, Raymond Carver? Akankan terasa senyata dan semenyakitkan seperti Han Kang menuliskannya? Carver bisa melakukan pengamatan, wawancara, dan beragam hal lain untuk meriset apa yang dialami tokoh-tokoh perempuan dalam The White Book, tapi apakah dia betul-betul paham bagaimana rasanya mengeluarkan manusia kecil dari perutnya dan menyaksikannya meninggal dua jam kemudian?



18 Maret 2018

The Red-Haired Woman, Orhan Pamuk




Novel terbaru Orhan Pamuk bercerita tentang seorang pemuda yang bekerja sebagai anak magang bagi seorang penggali sumur profesional. Si pemuda Cem, dan mentornya alias si penggali sumur itu sendiri dipanggil Master Mahmut. Ceritanya Cem dan Master Mahmut menggali sumur di kawasan pinggiran Istanbul, lalu satu hari Cem bertemu perempuan berambut merah yang bekerja sebagai pemain teater keliling. Pertemuan itu diiringi insiden yang mengubah jalan hidup Cem.

The Red-Haired Woman adalah cerita yang cukup sederhana jika dibandingkan dengan My Name Is Red atau The Museum of Innocence (saya menggunakan dua novel ini untuk perbandingan karena belum baca yang lainnya) meskipun saya enggak yakin apakah layak membandingkan mereka. Perbedaan yang paling kentara ada pada gaya narasi. My Name Is Red sangat kompleks dan The Museum of Innocence, meskipun tidak secanggih My Name Is Red, punya plot dan konflik internal yang tidak bisa dibilang sederhana.

Sebaliknya, The Red-Haired Woman seakan tidak menyimpan kejutan apapun. Sejak awal kita akan segera tahu apa yang akan terjadi pada tokoh utama. Judulnya membuat kita mengantisipasi kejadian seperti apa yang mungkin berlangsung sepanjang novel. Seperti misalnya, kita akan menunggu kapan si perempuan berambut merah muncul, siapa dia, dan apa yang membuatnya cukup istimewa sehingga layak dijadikan judul buku.

Setidaknya sejak membaca The Museum of Innocence, saya melihat tendensi gaya bercerita Orhan Pamuk yang senang memberitahu apa yang akan terjadi dalam ceritanya. Cara bercerita seperti ini di satu sisi memberi kenyamanan tertentu bagi pembaca karena jadi tidak perlu kebingungan dan menebak-nebak kejadian di novel, tapi juga memunculkan tantangan tersendiri bagi si penulis: penulis perlu memberikan hal lain yang lebih menarik di dalam ceritanya lebih daripada informasi mengenai apa yang sedang terjadi.

Pada My Name Is Red dan The Museum of Innocence, hal ini ditangani dengan baik melalui penggunaan diksi, plot, dan narasi. Saya kira siapapun yang sudah membaca My Name Is Red akan sepakat mengenai kepadatan narasi, diksi yang tidak sepenuhnya umum (setidaknya dalam versi bahasa Inggris; saya tidak membacanya dalam bahasa asli, Turki), di samping plot yang juga dinamis, bergerak tak tertebak menuju kemungkinan-kemungkinan yang sangat beragam. Jangan lupa permainan sudut pandang serta informasi yang kaya tentang sejarah dan teori seni rupa dalam konteks modern maupun Islam tradisional.

Di The Museum of Innocence, kesederhaan cerita menjadi sesuatu yang menarik karena dibalut narasi yang lembut, mengalir syahdu, dan di satu titik sampai menghanyutkan. Sampai-sampai tebalnya pun jadi tak terasa karena begitu menikmati tuturan Orhan Pamuk mengisahkan obsesi Kemal pada sepupu perempuannya.

The Red-Haired Woman, sayangnya, tidak begitu tertolong. Saya membaca begitu cepat karena dari paragraf satu ke paragraf berikutnya tidak menyajikan sesuatu yang mesti saya perhatikan dengan seksama. Bagian demi bagian informasi telah sangat jelas dan membuat saya dapat menebak apa yang akan terjadi, yang memang sesuai dugaan.

Barangkali saya luput menemukan hal yang menarik dari novel ini dan menyampaikan keluhan yang prematur. Harap jangan salah sangka, saya penggemar berat Orhan Pamuk walaupun belum membaca semua bukunya. Mungkin karena saya terlalu menyukai My Name Is Red dan The Museum of Innocence, saya menggunakan memori atas kedua novel tersebut untuk menilai novel Orhan Pamuk yang terbaru ini. Namun, saya cukup yakin, bahkan tanpa pernah membaca keduanya pun, saya akan menganggap The Red-Haired Woman sebagai karya yang biasa-biasa saja dari seorang pemenang Nobel Sastra.

Separah itukah The Red-Haired Woman? Yah, enggak juga, sih. Ada hal yang menarik seperti bagaimana Orhan Pamuk menggunakan kisah Oedipus mitologi Yunani dan tragedi Sohrab & Rostam dari sajak epik Persia abad ke-10 sebagai alusi bagi plot utama novel. Ramalan mengenai patricide (pembunuhan ayah oleh anak) dan filicide (pembunuhan anak oleh ayah) dari kedua alusi tersebut, diiringi kisah cinta oedipus complex menjadi balutan yang memberi lapisan-lapisan tafsir baru.

Namun, alusi-alusi tersebut tidak cukup untuk membuat The Red-Haired Woman jadi novel yang wah. Lagi-lagi, saya curiga semua ini gara-gara cara bercerita Orhan Pamuk yang, mungkin ya, kurang cocok. Pamuk seperti biasanya punya bahan yang menarik. Hanya saja kali ini saya tidak bisa tidak merasa Pamuk memilih cara yang keliru untuk menyampaikan bahannya.

Meski demikian, bagi penggemar Orhan Pamuk seperti saya, buku ini tetap layak dibeli buat koleksi. Sekali lagi sangat mungkin saya membaca dengan kurang teliti dan pembacaan saya tidak menyeluruh. Untuk itu saya menunggu pembacaan lain dari teman-teman yang sudah membaca buku ini (terjemahan bahasa Indonesia-nya sudah terbit) barangkali ada tuduhan-tuduhan saya yang keliru dan perlu ditelisik ulang.

Buku ini bukan karya yang buruk, hanya tidak seperti buku Orhan Pamuk yang saya harapkan. Yah, begitulah pembaca, kalau sudah retak ekspektasinya, sulit membuatnya mengapresiasi bagian lain yang penulis sajikan di dalam cerita. Ekspektasimu, harimaumu. ***