18 Maret 2018

The Red-Haired Woman, Orhan Pamuk




Novel terbaru Orhan Pamuk bercerita tentang seorang pemuda yang bekerja sebagai anak magang bagi seorang penggali sumur profesional. Si pemuda Cem, dan mentornya alias si penggali sumur itu sendiri dipanggil Master Mahmut. Ceritanya Cem dan Master Mahmut menggali sumur di kawasan pinggiran Istanbul, lalu satu hari Cem bertemu perempuan berambut merah yang bekerja sebagai pemain teater keliling. Pertemuan itu diiringi insiden yang mengubah jalan hidup Cem.

The Red-Haired Woman adalah cerita yang cukup sederhana jika dibandingkan dengan My Name Is Red atau The Museum of Innocence (saya menggunakan dua novel ini untuk perbandingan karena belum baca yang lainnya) meskipun saya enggak yakin apakah layak membandingkan mereka. Perbedaan yang paling kentara ada pada gaya narasi. My Name Is Red sangat kompleks dan The Museum of Innocence, meskipun tidak secanggih My Name Is Red, punya plot dan konflik internal yang tidak bisa dibilang sederhana.

Sebaliknya, The Red-Haired Woman seakan tidak menyimpan kejutan apapun. Sejak awal kita akan segera tahu apa yang akan terjadi pada tokoh utama. Judulnya membuat kita mengantisipasi kejadian seperti apa yang mungkin berlangsung sepanjang novel. Seperti misalnya, kita akan menunggu kapan si perempuan berambut merah muncul, siapa dia, dan apa yang membuatnya cukup istimewa sehingga layak dijadikan judul buku.

Setidaknya sejak membaca The Museum of Innocence, saya melihat tendensi gaya bercerita Orhan Pamuk yang senang memberitahu apa yang akan terjadi dalam ceritanya. Cara bercerita seperti ini di satu sisi memberi kenyamanan tertentu bagi pembaca karena jadi tidak perlu kebingungan dan menebak-nebak kejadian di novel, tapi juga memunculkan tantangan tersendiri bagi si penulis: penulis perlu memberikan hal lain yang lebih menarik di dalam ceritanya lebih daripada informasi mengenai apa yang sedang terjadi.

Pada My Name Is Red dan The Museum of Innocence, hal ini ditangani dengan baik melalui penggunaan diksi, plot, dan narasi. Saya kira siapapun yang sudah membaca My Name Is Red akan sepakat mengenai kepadatan narasi, diksi yang tidak sepenuhnya umum (setidaknya dalam versi bahasa Inggris; saya tidak membacanya dalam bahasa asli, Turki), di samping plot yang juga dinamis, bergerak tak tertebak menuju kemungkinan-kemungkinan yang sangat beragam. Jangan lupa permainan sudut pandang serta informasi yang kaya tentang sejarah dan teori seni rupa dalam konteks modern maupun Islam tradisional.

Di The Museum of Innocence, kesederhaan cerita menjadi sesuatu yang menarik karena dibalut narasi yang lembut, mengalir syahdu, dan di satu titik sampai menghanyutkan. Sampai-sampai tebalnya pun jadi tak terasa karena begitu menikmati tuturan Orhan Pamuk mengisahkan obsesi Kemal pada sepupu perempuannya.

The Red-Haired Woman, sayangnya, tidak begitu tertolong. Saya membaca begitu cepat karena dari paragraf satu ke paragraf berikutnya tidak menyajikan sesuatu yang mesti saya perhatikan dengan seksama. Bagian demi bagian informasi telah sangat jelas dan membuat saya dapat menebak apa yang akan terjadi, yang memang sesuai dugaan.

Barangkali saya luput menemukan hal yang menarik dari novel ini dan menyampaikan keluhan yang prematur. Harap jangan salah sangka, saya penggemar berat Orhan Pamuk walaupun belum membaca semua bukunya. Mungkin karena saya terlalu menyukai My Name Is Red dan The Museum of Innocence, saya menggunakan memori atas kedua novel tersebut untuk menilai novel Orhan Pamuk yang terbaru ini. Namun, saya cukup yakin, bahkan tanpa pernah membaca keduanya pun, saya akan menganggap The Red-Haired Woman sebagai karya yang biasa-biasa saja dari seorang pemenang Nobel Sastra.

Separah itukah The Red-Haired Woman? Yah, enggak juga, sih. Ada hal yang menarik seperti bagaimana Orhan Pamuk menggunakan kisah Oedipus mitologi Yunani dan tragedi Sohrab & Rostam dari sajak epik Persia abad ke-10 sebagai alusi bagi plot utama novel. Ramalan mengenai patricide (pembunuhan ayah oleh anak) dan filicide (pembunuhan anak oleh ayah) dari kedua alusi tersebut, diiringi kisah cinta oedipus complex menjadi balutan yang memberi lapisan-lapisan tafsir baru.

Namun, alusi-alusi tersebut tidak cukup untuk membuat The Red-Haired Woman jadi novel yang wah. Lagi-lagi, saya curiga semua ini gara-gara cara bercerita Orhan Pamuk yang, mungkin ya, kurang cocok. Pamuk seperti biasanya punya bahan yang menarik. Hanya saja kali ini saya tidak bisa tidak merasa Pamuk memilih cara yang keliru untuk menyampaikan bahannya.

Meski demikian, bagi penggemar Orhan Pamuk seperti saya, buku ini tetap layak dibeli buat koleksi. Sekali lagi sangat mungkin saya membaca dengan kurang teliti dan pembacaan saya tidak menyeluruh. Untuk itu saya menunggu pembacaan lain dari teman-teman yang sudah membaca buku ini (terjemahan bahasa Indonesia-nya sudah terbit) barangkali ada tuduhan-tuduhan saya yang keliru dan perlu ditelisik ulang.

Buku ini bukan karya yang buruk, hanya tidak seperti buku Orhan Pamuk yang saya harapkan. Yah, begitulah pembaca, kalau sudah retak ekspektasinya, sulit membuatnya mengapresiasi bagian lain yang penulis sajikan di dalam cerita. Ekspektasimu, harimaumu. ***

4 komentar:

Ageng Wuri mengatakan...

Saya belum membaca my name is Read dan The Museum of Innocence. Sepertinya menarik. Saya baru membaca The Red-Haired Woman. Sepertinya untuk memulai pembaca baru Orhan Pamuk, The Red-Haired Woman cocok dibaca pertama Kali. Kalau menurut Bang Bara, novel Pamuk yg menandakan ciri khas penulisannya novelnya yg mana? :)

Ageng Wuri mengatakan...

*My Name is Red

benz mengatakan...

Rada sulit menjawabnya karena aku belum baca semua buku Pamuk, apalagi yang udah kubaca relatif beda-beda gayanya. Tapi mungkin memoarnya, Istanbul, yang menurutku bisa dibilang cukup khas Pamuk.

Septia September mengatakan...

INi novel terjemahan kan... sepertinya seru n bagus novelnya, tapi entah mengapa aku selalu bosan di tenggah setiap baca novel terjemahan n lebih enjoy baca novel asli bhs. Inggris