17 Agustus 2018

Tiga Novel Michael Ondaatje



The English Patient (1992). Sudah lama saya mendengar tentang buku ini, tapi baru membacanya setelah dinobatkan sebagai peraih Golden Man Booker Prize, penghargaan yang diberikan Man Booker pada ulangtahunnya ke-50. Oleh tim juri, The English Patient dianggap novel terbaik dalam setengah abad terakhir. Luar biasa, bukan. Setelah membacanya, saya tak dapat membantah keputusan itu, meskipun untuk menilai secara objektif saya perlu membaca buku finalis lain (well saya sudah berhenti mencoba). Tapi cukup bagi saya bahwa Man Booker memilih novel yang tidak mengecewakan.

The English Patient adalah novel pasca perang dunia kedua, ditulis tahun 1992 oleh Michael Ondaatje, penulis Kanada lahir di Sri Lanka. Namanya populer mungkin setelah The English Patient digarap ke film tahun 1996 oleh Anthony Minghella, sutradara Inggris, dan diganjar 9 piala Oscar, termasuk untuk kategori film terbaik dan sutradara terbaik. Juliette Binoche, mendapat best actress in supporting role, memerankan Hana, perawat perang Kanada, karakter pertama yang muncul di adegan pembuka novelnya. Hana menarik tiga tokoh sentral lain: seorang mata-mata, seorang pencuri, dan seorang penjinak bom.

Novel dibuka dengan adegan Hana berdiri di kebun, di pekarangan vila yang terletak di sebuah area kompleks bangunan lama di Tuscany, Italia tengah. Ia merawat seorang pasien luka bakar parah, wajah tak bisa dikenali. Kelak dirujuk sebagai the english patient, si pasien Inggris. Belakangan terungkap nama aslinya, Almásy, penjelajah gurun dan kartografer Hungaria, dicurigai bukan hanya sebagai agen ganda, tapi triple agent (!) David Caravaggio, orang Kanada, pencuri, sudah empat bulan di rumah sakit Roma saat mendengar kabar burung tentang pasien Inggris dan perawat yang bersamanya. Tergerak oleh memori, ia pergi ke San Girolamo, lokasi mereka. Kip, penjinak bom asal India beragama Sikh, satu-satunya karakter sebaya Hana, bertugas membersihkan ranjau darat di sekitar vila, suatu siang terpancing bunyi denting piano Hana, mengira ada bom disembunyikan pasukan musuh di benda tersebut. Keempat karakter ini menjadi geng kecil di antara reruntuhan perang, seiring waktu menguak misteri hidup mereka melalui interaksi, percakapan yang menyingkap rahasia-rahasia.

Bagian terbaik dari novel ini adalah deskripsi Michael Ondaatje yang detail pada adegan-adegan yang tepat. Favorit saya, ketika Kip (kadang teringat tokoh Pip di novel Dickens) dalam proses menjinakkan ranjau darat seberat 2.000 kg. Begitu meyakinkan dan menegangkan, seolah Michael Ondaatje pernah melakukannya. Meski diapit detail di sana-sini, The English Patient tidak lantas menjadi bertele-tele. Dalam 300 halaman yang padat, kisah hidup empat orang dengan latar berbeda dapat terjalin apik, membentuk keutuhan cerita yang memuaskan. Michael Ondaatje bekerja sangat efektif. Sekilas melihat, kita akan tahu The English Patient melalui proses rewriting yang ketat dan mungkin hampir tak terhitung jumlahnya. Alur maju-mundur dalam adegan-adegan yang singkat mengingatkan saya pada novel-novel Dan Brown, untuk alasan serupa saya membacanya dengan sangat asyik, lancar tanpa hambatan hingga akhir.


In the Skin of a Lion (1987). Novel tentang orang-orang imigran di Toronto awal abad ke-20. Karya yang mendahului The English Patient, juga dianggap sebagai prekuelnya. Karakter pencuri David Caravaggio pertama muncul di novel ini, bersama Hana yang masih kecil. Patrick Lewis, protagonis In the Skin of a Lion, adalah ayah tiri Hana. Hidupnya kelak berakhir di The English Patient, tapi di novel ini kisahnya bermula sebagai pekerja yang ditugaskan mencari orang hilang. Novel In the Skin of a Lion berutang dari naskah Epos Gilgames, mengambil bagiannya untuk menjadi judul.

Patrick Lewis yang kehilangan ayahnya karena sebuah kecelakaan proyek pembangunan jembatan, memilih pekerjaan lain. Mencari konglomerat yang menghilang, Ambrose Small. Pencarian itu berakhir dengan kisah cinta yang pahit antara Patrick dengan Clara Dickens, selir si konglomerat. Untungnya kehidupan asmara Patrick berlanjut. Ia bertemu sahabat Alice Gull, sahabat Clara, dan anaknya yang berusia sembilan tahun, Hana. Mereka pacaran. Gagasan-gagasan Alice perihal uang dan kekuasaan merasuki Patrick. Sepeninggalnya Alice, Patrick meledakkan Muskoka, sebuah hotel di distrik Ontario Tengah yang dihuni orang-orang kaya.

In the Skin of a Lion punya bentuk yang sedikit mirip sekuelnya, namun dibanding The English Patient, ini lebih kronologis. Cerita berganti-ganti fokus menggunakan beberapa karakter, seluruhnya dituturkan dari sudut pandang ketiga. Dialog ditulis di antara adegan seperti naskah drama, minim gestur dan keterangan, somehow bikin tempo cerita jadi lebih cepat dan terkesan lebih dramatis. Bagian favorit saya ketika membayangkan David Caravaggio yang di The English Patient kehilangan dua jempol setelah dipotong tentara Blok Poros karena mencuri dokumen rahasia, di novel ini bekerja sebagai pembuat roti.


Coming Through Slaughter (1976). Pendahulu kedua novel sebelumnya. Berlatar New Orleans pada pergantian abad, ke-18 menuju ke-19. Tentang riwayat hidup Charles Joseph Buddy Bolden atau Buddy Bolden, pemain terompet cornet yang dianggap sebagai pelopor musik jazz.

Awalnya agak kagok baca novel ini, karena bentuknya sangat berbeda dengan The Englisht Patient dan In the Skin of a Lion. Kedua novel belakangan ditulis lebih rapi, bagian ke bagian. Prosa yang utuh. Coming Through Slaughter lebih, dalam tanda kutip, berantakan. Tapi justru inilah bagian terbaiknya. Halaman-halamannya terdiri atas fragmen-fragmen pendek, kadang potongan lirik lagu, deretan nama-nama band, berganti-ganti penutur dari narator ketiga ke suara Buddy Bolden sendiri lalu kembali ke narator serba-tahu. Saya membayangkan pada masanya novel ini dikategorikan, dalam tanda kutip, novel eksperimental.

Cara terbaik membaca novel ini adalah sembari mendengarkan Buddy Bolden’s Blues. Rangkaian bunyi terompet cornet yang lantang dan terdengar ceria, terasa kontras dengan kisah Buddy Bolden yang kelam, sendu, dan tragis. Jelang akhir hidupnya, ia divonis mengidap skizofrenia. Sebelum gila, Buddy Bolden seorang alkoholik dan terlibat perselingkuhan yang membuat rumah tangganya hancur. Michael Ondaatje secara brilian menulis paragraf-paragraf yang awalnya teratur, layaknya bait-bait pertama sebuah lagu, kemudian berganti ke kalimat-kalimat Buddy Bolden yang panjang tanpa tarikan napas tanpa tanda baca seperti yang saya coba tunjukkan di kalimat ini untuk menggambarkan pikiran Bolden yang melaju seperti nada-nada yang keluar dari terompetnya. Bagian favorit saya di novel ini ketika seorang tokoh diam-diam melihat Buddy Bolden memainkan terompetnya, mendengar Bolden memainkan blues yang lebih sedih dari himne, himne yang lebih sedih dari blues. Mencampuradukkan keduanya, himne dan blues, musik Tuhan dengan musik iblis (belakangan saya baru tahu pada masanya memainkan blues dianggap dosa).

Tokoh-tokoh legenda musik memang selalu menarik untuk dikulik. Gara-gara baca novel ini saya jadi mencari tahu tentang sejarah jazz, mendengar Chet Baker, Miles Davis, John Coltrane, dan pengin menonton Born to be Blue.

16 Agustus 2018

The Namesake dan Pantulan


-->

Saya selalu merasa buku bisa dinilai secara objektif. Dibedah, dimutilasi, dikorek isinya dengan sikap yang dingin. Dengan mata yang tak berbelas kasih. Isi buku dibaca, didekonstruksi, didakwa, menggunakan pisau kritik yang tak berjiwa. Tak peduli apakah buku tersebut sebetulnya mengandung hal-hal yang kita sendiri alami. Buku dalam beragam wajah dan sejarahnya, akan senantiasa tergeletak di atas meja operasi, berserah diri pada kesewenang-wenangan pembaca, sang dokter bedah.

Saya hanya pembaca, bukan kritikus sastra. Tidak punya gelar sarjana sastra. Tidak paham teori tentang karya sastra. Tidak punya pisau yang dibutuhkan untuk membedah karya sastra. Namun, sejujurnya saya pernah mencoba, tentu tanpa menyebut apa yang saya tulis sebagai sebuah kritik, tidak pernah. Saya hanya menulis ulasan. Awalnya saya mengira dapat membuat ulasan yang objektif, tapi lama-kelamaan saya merasa percuma saja mencoba. Buku akan selalu menjadi benda yang subjektif. Pembacaan atas buku akan sangat bergantung pada pengalaman pembacanya sendiri.  

Saya semakin meyakini hal ini ketika membaca novel The Namesake, Jhumpa Lahiri. Ketika membacanya, saya menangis di beberapa bagian, cukup banyak. Saya yakin, saya menangis bukan hanya karena The Namesake ditulis dengan bagus, tapi juga, dan terutama karena bagian-bagian buku tersebut menyentuh pengalaman personal saya. Identitas, keadaan, dan kegelisahan karakternya mencerminkan identitas, keadaan, dan kegelisahan personal saya sebagai manusia.

The Namesake terbit tahun 2003 dalam bahasa Inggris; diadaptasi ke film tahun 2006 oleh Mira Nair. Meski lahir dari orangtua yang India, Jhumpa Lahiri tidak menulis dalam bahasa Bengali. Ia lahir di London lalu di usia yang ke 2 tahun pindah ke New York, Amerika. Ia melihat dirinya sebagai orang Amerika. Nama asli Jhumpa Lahiri terdengar sangat India, Nilanjana Sudeshna, tapi ia memilih dikenal dengan nama Jhumpa. Persoalan nama ini juga menjadi inti persoalan The Namesake. Novel yang bergerak karena sebuah nama.

The Namesake bercerita tentang keluarga muda imigran India di Amerika. Cerita dimulai dengan kelahiran seorang anak laki-laki dari pasangan tersebut, Ashoke dan Ashima Ganguli, anak yang diberi nama Nikhil Gogol Ganguli. Nama yang ganjil itu diambil dari nama penulis Rusia, Nikolai Valisievich Gogol atau yang dikenal dalam versi lebih ringkas, Nikolai Gogol. Ayah si anak itu, bernama Ashoke, akademisi, adalah penggemar karya-karya Nikolai Gogol.

Suatu hari, sebelum menikah dan memulai kehidupan keluarganya di Amerika, Ashoke mengalami peristiwa tragis, kecelakaan kereta api. Secara ajaib, buku Nikolai Gogol yang sedang dibacanya saat itu menyelamatkan hidupnya. Lantas, letika anak pertamanya lahir, persoalan memberikan nama menjadi hal pelik. Rumah sakit Amerika tempat istrinya bersalin butuh mereka segera menamai bayinya, tapi tradisi India menjadikannya lebih rumit. Untuk mempermudah urusan mereka, Ashoke menamai anaknya Gogol.

Di kemudian hari, ternyata nama Gogol ini menjadi persoalan yang pelik. Saking peliknya sampai-sampai Gogol Ganguli memutuskan untuk mengubah namanya, secara resmi. Menjadi Nikhil Gogol Ganguli. Memperkenalkan dirinya ke orang-orang sebagai Nikhil, bukan Gogol. Ia menyembunyikan Gogol, mengubur nama itu dalam-dalam, bersama amarah serta kejengkelan terhadap orangtuanya. Hingga kelak di usia yang ke-30 tahun, Gogo mulai memahami makna sebenarnya dari sebuah nama. Namanya.

Sebuah nama, yang hanya ia sendiri yang punya.

*

Bagi saya, The Namesake menjadi personal karena menyimpan terlalu banyak kemiripan dengan hidup saya. Tak banyak yang tahu, tapi saya selalu merasakan kegamangan yang sama seperti yang dialami Gogol. Saya lahir dari ibu bersuku Melayu dan ayah bersuku Batak tapi saya tak pernah betul-betul merasa sebagai orang Melayu maupun Batak. Agama saya Islam, tapi nama saya Bernard. Saya sering dikira orang Kristen. Saya merasa tak menjejak pada satu tanah suku, agama, dan bahasa yang kuat. Persoalan identitas tidak pernah menjadi hal yang mudah dan tegas bagi saya.

Pada saat saya membaca The Namesake, usia saya hampir 30 tahun, sama seperti Gogol. Ibu kandung Gogol, Ashima, adalah perempuan India. Tak lama sebelum membaca The Namesake saya mengetahui bahwa saya punya garis keturunan India, langsung dari sebelah ibu; suami dari nenek moyang saya (neneknya ibu) adalah orang India. Sejujurnya saya tak ingat apakah ada adegan memasak di The Namesake, tapi masakan-masakan India selalu terasa dekat bagi saya karena di rumah nenek kami sering menyantapnya. Gogol punya adik perempuan yang usianya tak jauh dari adik saya. Sulit untuk menyangkal betapa berlimpah kemiripan di The Namesake dengan kehidupan personal saya.

Dengan begitu banyak kemiripan, saya tak bisa menghindar dari menjadikan adegan-adegan The Namesake sebagai bahan refleksi. Saya melihat diri saya di dalam Gogol. Cara bertutur Jhumpa Lahiri yang deskriptif dan subtil, membuat saya merasakan perubahan emosi Gogol secara intens, seakan-akan yang saya baca adalah perasaan-perasaan saya sendiri. Membaca The Namesake seperti mengalami perasaan yang sama dua kali. Kegelisahan yang sama. Kesedihan yang sama.

*

Dapatkah saya membuat ulasan buku yang objektif, yang mengesampingkan pengalaman pribadi saya dan membatasi pembacaan di dalam buku itu sendiri? Setelah The Namesake, saya rasa tidak. Saya tak akan pernah mencobanya lagi.

Tentu saja persoalan akan berbeda bagi kritikus sastra, tapi saya akan selamanya melihat buku sebagai sesuatu yang personal, yang memberi efek terdahsyatnya bukan hanya karena ia ditulis dengan bagus dan penuh kesabaran, tapi karena penulisnya telah sangat apik mengungkapkan apa yang dirasakan, dialami, dan disimpan diam-diam oleh pembacanya. Memantulkan kembali wajah sejarah pribadi pembacanya. Menjadi sepotong cermin. ***