21 September 2018

Kenapa Mau Jadi Penulis?


-->


Mempertanyakan motivasi di balik keinginan besar anak muda terhadap profesi penulis. Sebuah catatan personal dari penulis yang baru satu dekade menekuni kesenangannya sebagai pilihan pekerjaan.



Saya tidak tahu kapan tepatnya penulis jadi profesi yang populer, terutama di kalangan remaja. Yang saya tahu saat ini banyak sekali anak muda ingin jadi penulis. Portal-portal digital tempat mengunggah tulisan bermunculan bagai jamur. Seiring meningkatnya kebutuhan konten untuk kepentingan bisnis hiburan maupun jenis bisnis lain, penulis jumlahnya terus bertambah, aktif melahirkan tulisan-tulisannya di kanal digital maupun media fisik.

Sebelum bicara lebih jauh, saya perlu menyampaikan sesuatu tentang siapa dalam hal ini yang saya bahas. Penulis yang saya maksud adalah siapapun yang membuat tulisan serta menerbitkannya, rutin maupun tidak. Demi membatasi pembahasan, secara khusus di tulisan ini saya merujuk kepada penulis-penulis muda di bawah 25 tahun yang berkarya melalui medium fiksi. Cerita pendek, bersambung, novel. Definisi dan batasan ini tidak berdasarkan apapun selain bahwa yang terlintas di kepala saya ketika mempertanyakan minat menulis adalah mereka yang lebih muda dari saya, dan fiksi karena saya sendiri lebih banyak menulis karya fiksi.

Kesimpulan saya tentang minat besar anak muda terhadap profesi penulis saya tarik dari banyaknya pertanyaan, testimoni, dan pesan-pesan yang masuk ke kanal-kanal digital saya tentang bagaimana caranya jadi penulis. Setiap kali saya talkshow untuk promosi buku terbaru, atau ketika mengisi kelas-kelas penulisan kreatif, saya selalu berhadapan dengan puluhan anak muda yang pengin jadi penulis. Pada tahun-tahun pertama menulis saya akan mudah menjawabnya. Namun, kini, sering pertanyaan tersebut saya jawab dengan sebuah pertanyaan lain:

“Kenapa kamu mau jadi penulis?”



Raison d’etre

Interaksi saya di berbagai kesempatan dengan anak-anak muda yang mengaku ingin jadi penulis mengajarkan saya sesuatu tentang motivasi. Ketika saya bertanya balik kenapa mereka ingin jadi penulis, sebagian menjawab dengan kalimat yang kabur, tetapi sisanya cukup jelas. Selain supaya bisa curhat dalam kalimat-kalimat yang artsy, poetic, dan sophisticated, sebetulnya cuma ada 2 (dua) motivasi utama seseorang pengin jadi penulis:
  1. Uang
  2. Ketenaran

Pengin kaya dan terkenal, itulah dua motivasi terbesar yang paling sering saya dengar. Dua hal yang dapat dicapai dengan cara lain, mungkin lebih efektif daripada harus meraihnya lewat jalan panjang dan sepi seorang penulis. Selugu apapun dua hal tersebut, uang dan ketenaran, saya dapat memahaminya. Namun, saya ingin mengutip quote Jim Carrey yang saya dapat dari Internet untuk menjawab keluguan itu.

“I think everybody should get rich and famous and do everything they ever dreamed of so they can see that it’s not the answer.” (Jim Carrey)


Ya, saya berani bilang itu bukan jawabannya. Menjadi kaya dan terkenal karena menulis bukanlah hal yang kamu cari.
Sewindu yang lampau, sebagai anak muda yang pengetahuannya tentang industri buku nyaris nol, saya tak pernah bermimpi bakalan menjadi penulis, apalagi menerbitkan buku yang laris. Namun, pasar pembaca sangat berbaik hati. Tiga buku pertama saya yang rilis lewat penerbit mainstream sangat laris bagi ukuran personal saya, mencatatkan nama saya ke peta buku nasional. Membuat saya punya pembaca.

Namun, seiring waktu saya mengetahui bahwa bukan buku best-seller lah yang saya kejar. Bukan pula follower yang banyak. Walaupun kadang masih terasa ganjil, saya senang ketika ada yang mengenali saya di keramaian, di tempat publik, tapi bukan pula hal itu yang membuat hati saya tenteram dan puas. Ketika saya tahu bahwa punya buku laris dan dikenal orang tidak membuat saya bahagia, saya sadar, keduanya bukan raison d’etre saya menulis.

Lantas, apa?


Mitos tentang dunia penulis

Menjadi penulis mungkin terlihat keren, tapi sama sekali tidak ada yang menyenangkan dari proses menulis. Menulis membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang kuat. Dalam sebuah tulisan yang cukup representatif, Dewi Lestari pernah menyatakan bahwa penulis adalah profesi yang tidak sehat. Siapapun yang pernah mendedikasikan berjam-jam menulis sesuatu bakal setuju. Low back pain (LBP) dan carpal tunnel syndrome (CTS) adalah teman akrab. Asam mefenamat adalah sahabatnya penulis.

Itu baru persoalan tubuh, belum pikiran yang secara langsung berdampak pada kondisi mental. Berapa banyak penulis yang punya masalah dengan kejiwaan? Cobalah google creativity and mental illness”, ada sederet nama penulis besar dalam berbagai artikel yang didampingi jenis penyakit jiwa mereka. Dalam pengantar di buku kompilasi biografi singkat penulis yang pernah saya baca, ada satu kalimat menggelitik. “Semua orang akan jadi gila, penulis hanya tiba di sana lebih cepat.”

Tentang hubungan penulis dengan penyakit kejiwaan silakan riset sendiri. Saya hanya bisa sampaikan satu hal: menulis membuatmu memikirkan, cemas pada banyak hal. Bahkan, keduanya yang mendorongmu menulis. Ingin hidup dalam kecemasan yang mencekam? Silakan jadi penulis.

Belum lagi persoalan ambisi menulis sebuah karya yang bagus, yang saya kira tak akan pernah tercapai, sebab ketika kamu sudah merasa menulis sesuatu yang bagus, di situ lah proses belajar berhenti. Progres tidak dimungkinkan dalam sikap berpuas diri. Saat kamu membaca buku-buku bagus, seketika kamu terdorong untuk menulis sebagus apa yang kamu baca. Namun, kamu akan ditinju kenyataan: ketidakmampuanmu menyeberangi jurang antara selera membaca dan kemampuanmu menulis. Wajahmu biru-biru oleh karya sendiri yang tidak cukup bagus bagimu dan rekening yang tidak banyak berubah karena bukumu tidak laku.

Jadi, kenapa masih mau jadi penulis?



Refleksi personal

Kenapa saya menulis? Saya sudah menjawabnya di profil akun ini. Saya menulis karena saya tidak bisa tidak melakukannya. Saya sudah pernah mencoba berhenti menulis. Dengan sangat menyesal saya harus bilang bahwa bahkan untuk yang satu ini pun saya gagal. Setiap kali saya memalingkan wajah ke hal-hal lain yang lebih bikin saya bahagia, lebih tidak bikin saya cemas, setiap kali itu pula saya seperti ditarik kembali ke depan layar laptop, handphone, buku catatan, untuk menulis apa yang saya alami, pikirkan, pertanyakan. Saya ingin tidak menulis, tapi saya tidak bisa.

Saya pernah punya buku yang laku, pernah juga tidak laku-laku amat. Saya pernah dielu-elukan di sebuah talkshow, pernah juga tidak ada satu pun yang mengenal saya di sebuah tempat. Pengin jadi penulis karena bisa kaya raya? Itu kalau bukumu laku, dan ingatlah bahwa pasar selalu misterius. Dikenal orang? Ada cara yang lebih efektif. Lakukan hal konyol dan minta bantu temanmu yang selebtweet memviralkan kelakuanmu.

Ketika saya resign dari kantor penerbit besar dan memutuskan untuk jadi penulis saja, saya menikmati kebebasan dan ketidakpastian yang saya hadapi setiap hari. Saya meninggalkan gaji pokok, insentif, orang-orang hebat yang menyenangkan, demi ambisi personal. Saya ingin menulis sesuatu yang berarti. Saya ingin menulis karya yang bagus dan berarti.

Dan arti? Sebagai self-proclaimed, so-called nihilist, membicarakan arti bakal jadi pekerjaan rumah yang, ironisnya, tak berarti. Tujuan saya menulis kini jadi senjata makan tuan. Saya ingin melakukan sesuatu yang bertujuan, yang berarti, ketika saya sendiri tak yakin apakah semua ini ada artinya, di waktu yang bersamaan saya tak dapat mengerjakan apapun selain menulis. Terjebak dalam lingkaran yang menyiksa batin, menggeroti fisik dan pikiran. Well.

5 September 2018

Insomniac City, Bill Hayes




Enggan melupakan sesuatu tidak sama dengan berharap mengingatnya lebih baik. Saya menebak bahwa Bill Hayes, kolumnis The New York Times, menulis berbagai peristiwa yang ia alami selama enam tahun hidup di New York dalam buku memoar yang bagus, Insomniac City (2017) untuk memberitahu pembaca bahwa ia tak bermaksud semakin mengingat adegan-adegan itu, melainkan sekadar tidak melupakannya. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, di mana batas antara mencatat sejarah dan mempertajam memori? Bagaimana kita tahu di mana jurnal berakhir, dan nostalgia dimulai?

Sebelum membaca Insomniac City, saya tidak pernah tahu nama Bill Hayes. Suatu hari saya bicara di talkshow untuk buku terbaru dua orang teman, dan mereka memberi saya buku ini sebagai hadiah. Saya jarang baca memoar, jadi buku ini tidak masuk ke daftar prioritas membaca, jujur saja. Tapi kadang-kadang saya iseng mengambil buku secara acak dari koleksi di kamar, terutama jika tidak sedang tahu harus baca yang mana. Agak kurang menyangka, ternyata Insomniac City jadi salah satu buku terbaik yang saya baca melalui random-picking itu.

Insomniac City adalah buku kumpulan esei super pendek yang diselang-selingi catatan acak dari jurnal penulisnya. Bill Hayes, seorang homoseksual, menulis esei-esei yang sangat bagus tentang New York dan hubungan asmara dengan Oliver Sacks, neurolog dan ilmuwan Inggris. Sebagaimana Bill Hayes, saya pun tak tahu-menahu tentang Oliver Sacks hingga membaca buku ini. Dalam salah satu eseinya Bill Hayes juga menceritakan bagaimana ketika ia mengungkap orientasi seksualnya kepada ayahnya.

Itulah tema buku ini. Kota dan cinta. New York, Oliver Sacks, and Me, seperti ditulis Bill Hayes di bawah judul Insomniac City.

*

Bill Hayes membagi isi bukunya ke dalam tiga bagian, masing-masing diberi judul Insomniac City, On Being Not Dead, How New York Breaks Your Heart. Ia lebih banyak bercerita tentang dirinya di bagian pertama, tentang Oliver Sacks di bagian kedua, dan kehidupan orang-orang New York di bagian terakhir. Namun, tidak sekaku itu. Di tiap-tiap bagian selalu terdapat gagasan-gagasan kehidupan dari perspektif Bill Hayes sendiri, interaksinya dengan orang-orang New York, dan hubungannya dengan Oliver Sacks. Ketiganya berkelindan apik dalam rangkaian kalimat yang page turning.

Tak berapa lama sebelum membaca Insomniac City, saya sedang ingin mencoba menulis esei tentang kehidupan sehari-hari. Kolom-kolom pendek yang reflektif. Slices of life. Ada semacam perasaan rugi kalau tak mencatat apa-apa yang terjadi seharian meski tak semuanya menarik. Persoalannya, saya tak punya panduan. Ketika membaca tulisan-tulisan pendek Bill Hayes, saya merasa mendapat titik terang.

Dalam kalimat-kalimat ketat saya bayangkan ditulis ulang berkali-kali, Bill Hayes begitu jernih menyampaikan gagasan-gagasannya melalui apa yang ia amati. Ia menangkap dengan matanya pasangan muda di bangku taman, perempuan dan anak kecil di gerbong subway, pelanggan toserba, ia menggambarkan interaksi menggunakan pilihan kata yang tidak hanya akurat, tapi juga memberi makna yang luas. Adegan-adegan yang tadinya terasa hanya mungkin terjadi di New York, menjadi punya arti lebih umum, universal.

Ia mengidap insomnia akut, Bill Hayes, dan kerap menggambarkan New York sebagai refleksi dari dirinya sendiri. Kalau New York itu seorang pasien, tulisnya dalam bahasa Inggris, ia pasti mengidap yang namanya agrypnia excitata, kondisi langka yang dicirikan dengan insomnia, kejang-kejang, perasaan gugup; gambaran kota yang tak pernah tidur, tempat seseorang datang untuk menciptakan dirinya kembali.

*

Cukup lama saya sadar, kini sudah menerimanya sebagai kenyataan, bahwa hidup tidak memiliki makna di dalam dirinya sendiri. Kita tidak mencari makna karena hidup tidak menawarkannya. Kita menciptakan makna. Dalam kesadaran ini saya memperoleh kelegaan. Dalam kenyataan ini terdapat kebebasan, bebas menciptakan makna apapun yang saya inginkan untuk hidup saya. Bebas pula ingin menciptakan makna atau tidak.

Menulis, bagi saya, adalah cara untuk menciptakan makna tersebut. Menulis adalah cara memaknai hal-hal duniawi yang biasa, yang sepele. Yang mundane. Jika kita bukan tentara yang hidup di Gaza atau orang-orang yang menunggu bom di Palestina, hidup ini tidak selamanya memberi hal-hal yang besar, yang mengguncang, yang life-changing. Hidup bagi orang medioker, kelas menengah sedikit ngehe seperti saya sebagian banyak terisi hal-hal tak berarti. Menulis hal-hal tak berarti itu adalah cara untuk memandangnya dari perspektif lain, sambil menduga-duga ilham yang tersembunyi di baliknya.

Menulis adalah sebuah usaha mengungkap makna di antara serangkaian peristiwa sepele yang terjadi secara acak. Seperti ketika saya mengambil Insomniac City dari tumpukan buku di kamar. Tak harus ada penyebab, tapi konsekuensi selalu hadir. Esei-esei pendek di buku ini mengingatkan saya kembali akan pentingnya mencatat. Menulis apa saja yang terjadi, sesepele apapun kelihatannya. Suatu hari yang sepele di jurnal akan menjadi tujuan nostalgia. Memori yang terangkat ke permukaan untuk menceritakan ulang tentang hidup yang sudah kita jalani. Hidup yang kurang panjang, mungkin, tetapi cukup berarti. ***

1 September 2018

Novel Digital Espresso!



Espresso adalah judul karya terbaru saya. Novel dalam format digital yang bisa teman-teman nikmati di layar handphone. Bab pertama sudah terbit hari Selasa 3 April 2018 dan bab baru akan terbit setiap Selasa pukul 19.00 WIB.

Baca Espresso di aplikasi Storial.co (unduh di Google Play). Lima bab pertama dapat teman-teman baca dengan gratis. Bab keenam hingga tamat perlu membayar menggunakan Koin Storial, yang dapat teman-teman beli dengan pulsa operator.

Untuk pertanyaan seputar teknis (cara mendaftarkan akun di Storial.co, membaca, membeli koin, dan lain-lainnya) silakan kontak Tim Storial.co di Twitter & Instagram: [at]StorialCo.

Selamat membaca Espresso!