25 November 2018

Lomba Menulis

Seorang teman pernah berkata kepada saya bahwa dulu, waktu ia kecil, ia sempat bercita-cita ingin menjadi penulis. Ia membaca buku-buku komik dan cerita di majalah anak-anak. Ia senang membaca cerita-cerita itu dan membayangkan bagaimana kalau ia sendiri yang mengarang cerita. Ia ingin tidak cuma jadi pembaca tapi juga penulis. Tidak cuma menjadi membaca tapi juga dibaca.

Teman saya itu waktu sekolah mengambil jurusan IPA lalu berkuliah di jurusan Ekonomi. Saat ini ia berkuliah di semester tiga sambil bekerja sampingan sebagai fotografer. Ia memotret apa saja mulai dari makanan hingga upacara perkawinan. Kami berkenalan ketika ia sudah berkuliah. Ia cerita ke saya tentang cita-cita masa kecilnya ingin jadi penulis ketika tahu bahwa saya menulis novel.

"Kamu masih bisa jadi penulis kalau mau." Itu yang saya katakan kepadanya. Saya memang percaya bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi penulis. Kalaupun tidak menjadikan kegiatan menulis sebagai pekerjaan, menulis tetap kegiatan yang bermanfaat untuk melatih cara berpikir yang teratur dan jernih. Menulis bisa membantu kita memahami pikiran-pikiran kita sendiri.

Teman saya mengangkat pundaknya. "Tapi apa yang harus aku tulis? Aku enggak punya ide."

Nah, kalau itu sesuatu yang saya tidak percayai. Kita selalu punya ide. Kita selalu punya sesuatu untuk diceritakan. Hidup kita tersusun dari cerita-cerita. Bahkan, sebelum kita terlahir ke dunia, orangtua kita juga hidupnya tersusun dari cerita-cerita. Sebelum dan sesudah kita hidup, cerita akan selalu ada. Saat kita hidup, kita sedang menjalani dan menciptakan cerita kita sendiri.

"Jawabanmu abstrak banget." kata teman saya lagi. "Coba kasih saran yang lebih praktis."

Bertahun-tahun, saya menulis fiksi. Saya mengarang cerita. Kadang-kadang saya mengambil cerita dari kehidupan orang lain, kadang-kadang dari kehidupan diri saya sendiri. Namun, cerita pendek dan novel punya aturannya sendiri. Aturannya hanya satu dan sangat sederhana:

Setiap hal yang muncul di cerita harus berdasarkan sebuah alasan.

Maka dari itu, hal yang paling penting dalam menulis adalah menjawab pertanyaan mengapa. Mengapa tokoh-tokohnya melakukan hal-hal yang mereka lakukan? Mereka lokasi ceritanya di situ dan bukan di sini? Mengapa si anu bertemu dengan si ini tetapi tidak dengan si itu? Semuanya harus memiliki alasan yang masuk akal dan kuat. Harus ada penjelasan yang menyertai setiap keputusan.

Salah satu cara terbaik untuk berlatih memaparkan alasan adalah dengan menulis ulasan. Review. Saya sering mengulas buku di blog saya ini. Kadang-kadang saya mengulas film. Ulasan atau review menjadi ruang yang sangat pas untuk latihan menjelaskan alasan-alasan di balik pendapat kita tentang sesuatu. Mengapa kita menyukai sesuatu. Mengapa kita berpikir ada yang bisa lebih dikembangkan dari sesuatu.


Saya senang mengundang kalian semua untuk berlatih menulis review. Tentu saja saya juga senang mengatakan bahwa latihan ini tidak cuma-cuma. Ada hadiah besar yang menanti para pemenang.

Bukalapak mengadakan lomba blog BukaReview. Berlangsung dari 22 Oktober 2018 hingga 31 Desember 2018. Total hadiah sebesar 60 juta rupiah untuk tiga pemenang. Ada beragam pilihan topik review yang bisa dipilih sehingga kesempatan untuk ikut serta semakin besar. Saya sendiri akan jadi salah satu juri lomba blog BukaReview.

Silakan lihat syarat & ketentuan lomba blognya di sini: Lomba Blog BukaReview. Untuk mendaftar silakan ke sini: Pendaftaran Lomba Blog BukaReview.


Tidak ada komentar: