2 November 2018

Perpisahan yang Manis


-->
Perpisahan yang Manis
Enam tahun berkarir sebagai penulis, mencari tempat ideal untuk menuangkan kata-kata menjadi sebuah tulisan yang memuaskan, bikin saya menyimpulkan satu hal. Mungkin benar anggapan umum yang berkata bahwa, penulis dan coffee shop adalah dua hal yang hampir enggak bisa dipisahkan. Seakan ada rahasia tersendiri di kedai-kedai kopi yang membuat penulis tidak pernah kehabisan inspirasi.
Sebagai penulis dan penikmat kopi, saya selalu menduga ketergantungan saya pada coffee shop untuk bekerja bukan cuma karena efek kafein dari kopi yang diseruput, tapi juga suasana kedai yang memang mendukung. Saya selalu mengantuk jika menulis di kamar. Namun, tidak di coffee shop. Pemandangan orang-orang yang sedang berkutat dengan laptop, situasi yang kondusif, dan riuh rendah suara serta bunyi mesin kopi yang membuat pikiran saya terjaga. Mood-nya dapet aja gitu.

Itu sebabnya hari-hari kerja saya adalah perjalanan dari satu coffee shop ke coffee shop lain. Beruntung, saya tinggal di Yogyakarta. Kota yang konon punya lebih dari seribu kedai kopi (catchy juga kalau jadi slogan). Apalagi belakangan ini, coffee shop baru bergaya modern terus bermunculan bagai jamur di musim hujan. Saya tidak pernah kehilangan pilihan tempat menulis. Kalau bosan dengan coffee shop yang satu, tinggal pindah ke yang lain.

Tapi...
Tapi, ternyata enggak semudah itu menikmati coffee shop-coffee shop baru tersebut, menjelajahi "kantor-kantor" baru saya untuk menulis. Motor pribadi yang selalu menjadi teman saya mengelilingi kota pernah juga menjadi musuh saya. Bukan karena kami berantem pukul-pukulan, tapi mengendarai motor sendiri kadang bikin capek. Kalau sudah capek, mood untuk menulis pun bisa ngedrop.

Jangankan untuk menulis yang memang jadi pekerjaan saya, buat ketemu teman-teman nongkrong yang notabene harusnya jadi kegiatan seru pun rasanya malas, kalau sudah capek bawa motor. Apalagi motor saya pakai kopling. Ke mana-mana sudah kayak pakai adjustable hand-grip, alat buat menguatkan otot tangan.

Ditambah kalau jalan sudah macet, biasanya sore-sore jelang magrib. Wah, ampun deh. Maju sedikit, berhenti, maju sedikit, berhenti. Otot telapak tangan dijamin pegal linu karena kopling main terus. Pasti pernah ngalamin juga?

Belum cukup soal tangan pegal linu gara-gara main kopling. Pinggang juga pegel gara-gara kelamaan duduk. Kalau sudah menulis, saya bisa duduk menghadap laptop selama berjam-jam. Paling sebentar 3-4 jam, pernah 10 jam. Duduk pas nulis, duduk pas bawa motor dengan kondisi tangan pegal, semuanya bisa merusak mood menulis seketika.

Padahal, sulit banget menulis kalau enggak ada mood. Tulisan bisa tetap selesai tapi hasilnya enggak memuaskan. Kata-katanya jadi enggak mengalir, adegan-adegan di naskah novel jadi enggak hidup, pokoknya enggak beres. Kopi terbaik yang sudah diseduh sepenuh hati oleh barista paling jago, di coffee shop yang paling pewe, pun enggak cukup untuk mengembalikan mood. Gara-gara pegal, lelah fisik.

Enggak, belum cukup parah. Bayangin satu hal lagi. Setelah capek duduk di coffee shop, capek duduk di motor, tahu-tahu di jalan ada pengendara yang enggak paham aturan. Main nyerobot lampu merah, selip sana selip sini sampai membahayakan orang lain. Rasa-rasanya mau ngedumel, bawaan pengin misuh-misuh, tapi juga percuma. Malah bikin makin lelah.




Usut punya usut, benar juga yang GO-JEK bilang soal gangguan Rheumatir& Hipersensi. Jelas sudah saya lagi mengalami dua gangguan itu sekaligus. Rheumatir bikin kondisi fisik ​ngedrop ​gara-gara kebanyakan duduk sambil fokus bawa motor. Akibatnya keterusan, jadi Hipersensi, melampiaskan emosi berlebihan di jalan. Udah capek, ​ngedumel. Enggak ada bagus-bagusnya buat kebaikan jiwa.

Pas sudah mulai sadar dengan gangguan yang saya alami, saya enggak menunda-nunda lagi buat cari solusi. ​Mood menulis harus secepat mungkin dikembalikan. Satu-satunya cara ya harus segera meredakan Rheumatir & Hipersensi ini. Saya perlu mengurangi gangguan dari capek fisik dan emosi yang berlebihan gara-gara setiap hari kelelahan bawa kendaraan pribadi.

Tapi, gimana?

Waktu buka-buka ​handphone, ​muncullah jawaban atas pertanyaan itu.

GO-JEK.

Saya udah beberapa kali pakai GO-JEK buat ke mana-mana, tapi seringkali masih ​ngotot pakai motor sendiri. Seseringkali itu pula saya terpaksa ​ngedumel ​ke diri sendiri. ​Siapa suruh bawa motor terus, pegel-pegel kan.

​Padahal di Yogyakarta, armada GO-JEK udah banyak, gampang ditemukan. Baru pesan nih, enggak sampai setengah menit udah dapat ​driver. ​Tunggu sebentar sambil siul-siul, ​driver​ pun tiba, siap ditumpangi ke tempat tujuan. 

Hal yang paling saya suka kalau sudah naik GO-JEK adalah, tentu saja, jadi enggak perlu ​ngerasain ​tangan pegal linu. Karena enggak mengendarai sendiri motornya, jadi bisa lebih rileks di jalan. Karena di jalanan merasa santai, jadi enggak kebawa emosional sama situasi jalanan yang padat dan kadang ruwet. 

Selamat tinggal, gangguan Rheumatir dan Hipersensi. Titip salam buat gangguan-gangguan lainnya. Sekarang saya sudah punya peredanya. Ampuh dan gampang diperoleh.

Salah satu pertanyaan yang pernah saya dapat ketika mengisi kelas-kelas menulis adalah bagaimana caranya agar bisa fokus menulis.

Beberapa mengira jawabannya melakukan ini dan itu. Keliru. Justru sebaliknya, yakni ​tidak ​melakukan ini dan itu.

Untuk urusan fokus, langkah pertama yang penting bukan melakukan sesuatu agar fokus, tapi ​tidak ​melakukan hal-hal yang membuat kita tidak fokus. Misal bawa kendaraan sendiri yang akhirnya bikin capek dan ​misuh-misuh ​di jalan. Hasilnya jadi lelah fisik dan mental, mengganggu fokus bekerja.

Harusnya tenaga fisik dan modal psikis (​mood​) bisa dicurahkan seluruhnya untuk pekerjaan yang mau kita selesaikan, tapi seringnya yang terjadi malah kita buang-buang energi di jalan. Hal itu sebenarnya enggak perlu terjadi. #UdahWaktunya gangguan kayak Rheumatir dan Hipersensi yang, saya yakin, kita sering banget alami, bisa mudah diredakan dengan satu cara praktis: Pakai GO-JEK.

Kita kadang-kadang enggak ​ngeh ​bahwa jawaban dari pertanyaan kita biasanya enggak pernah jauh-jauh, bahkan bisa jadi sedekat genggaman tangan.​

Nah, sekarang saya mau main ke coffee shop yang baru buka di daerah Palagan. Tapi naga-naganya di jalan bakal kejebak jalanan padat. Mendingan motor saya istirahatkan dulu, sekaligus mengistirahatkan diri sendiri dari ​ngedumel ​yang enggak perlu. Pergi ke coffee shop #UdahWaktunya pakai GO-JEK aja.

Selamat tinggal Rheumatir. Selamat tinggal Hipersensi. Ini perpisahan yang amat manis.



4 komentar:

ilham Rangkuti mengatakan...

Bst... Iklannya kayak Amerika Serikat, bombardir ke segala jurus..
Pen cepet dapet duit banyak

kharis alimoerdhoni arief mengatakan...

Jaga kesehatan Bang Beben. Semoga solusi gojek dapat lebih produktif lagi dalam dunia menulis.

Unknown mengatakan...

Smooth banget advertorialnya, Bang :)

Inung Sundari mengatakan...

jaga kesehatan bang 💙