Skip to main content

Cover Reveal! "Banse Firius"

My new novel is soon to be published by Shira Media.

Cover design by Felisitas Dara (Instagram: @felsdar)


Thriller.

Tidak ada pilihan yang logis selain menulis novel thriller bagi saya.

Kehidupan saya setelah menikah dengan @felsdar merupakan kehidupan yang melaju kencang. Kami berdiskusi untuk meninggalkan nilai-nilai lama yang dipaksakan ke kami. Nilai-nilai lama itu mengekang saya, kehidupan pribadi saya, sebelum menikah dengan @felsdar.

Setelah nilai-nilai lama itu rontok dari kepala saya, thriller menjadi satu-satunya genre yang logis bagi kepala saya. Genre ini memungkinkan saya bercerita dengan niatan yang menggambarkan secara akurat, nilai-nilai lama yang telah rontok dari kepala saya. Nilai-nilai lama yang menyiksa BANSE FIRIUS.

Saya dan @shiramedia menawarkan sebuah bacaan yang pasti membuatmu melupakan persoalan hidup. Meskipun hanya berlaku sesaat, melupakan persoalan hidup dengan membaca BANSE FIRIUS akan mengembalikanmu ke kehidupan dengan keadaan kamu telah berubah menjadi manusia dengan pemikiran baru.

BANSE FIRIUS merupakan novela kedua di #SerialSINDIKATSATU.

Ilustrasi sampul oleh @felsdar. Saya sangat menyukai penerjemahan @felsdar atas Sigak. Sigak telah muncul di novela pertama #SerialSINDIKATSATU yaitu BATU MANIKAM. Pada ilustrasi sampul BANSE FIRIUS, @felsdar juga memberi @pembacabara visualisasi Banse Firius berdasarkan bayangannya setelah membaca draf pertama novela #BanseFirius. @pembacabara dapat melihat visualisasi Banse Firius di kuping jaket buku novela BANSE FIRIUS dan di bagian dalam novela terbaru saya ini. @felsdar menggambar ilustrasi isi untuk buku saya yang ke-18, BANSE FIRIUS. Saya juga menyukai visualisasi cerita BANSE FIRIUS yang diciptakan @felsdar. Saya yakin, @pembacabara tidak sabar melihat visualisasi BANSE FIRIUS di bagian dalam bukunya, yang dibuat @felsdar.

Nantikan prapemesanan novela kedua saya di #SerialSINDIKATSATU.

#BanseFirius


Follow me: @benzbara_





Comments

Popular posts from this blog

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.