Skip to main content

Writer


Photo: Fels


Bernard Batubara is an Indonesian bilingual best-selling writer of 19 books, thinker, theoretician, philosopher, and human observist. He works as an editor, translator, and influencer.

 

He developed his taste for reading books as early as 8. Since then, he has wanted to become a career writer. He wrote his first short story in junior high school, his novel senior. He joined college press and easily became vice chief, three years experience. In the same years with his activity as a college press journalist, he began to build his writing career by sending his poetry to a local and national newspaper in Indonesia, which got published prolifically. He was an editor in one of the biggest book publishers in Indonesia, now doing it freelance. He teaches writing and provides editorial and also copywriting services for commercial and literary purposes. He accepts prose, poetry, nonfiction story, and any other possible work relating to words.

 

Until recently, he already published 19 books: "Angsa-Angsa Ketapang" (Poetry collection, 2010), "Radio Galau FM" (Stories collection, 2011), "Kata Hati" (Novel, 2012), "Milana" (Novel, 2013), "Cinta." (Novel, 2013), "Surat untuk Ruth" (Novel, 2014), "Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri" (Novel, 2014), "Jika Aku Milikmu" (Novel, 2016), "Metafora Padma" (Novel, 2016), "Elegi Rinaldo" (Novel, 2017), "Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran" (Novel, 2017), "Luka Dalam Bara" (Stories collection, 2017), "Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan" (Stories collection, 2017), "Asal Kau Bahagia" (Novel, 2017), "Espresso" (Novel, 2019), "Tentang Menulis" (Essays collection, 2019), "Residu" (Stories collection, 2019), "Batu Manikam" (Novel, 2020), and "Banse Firius" (Novel, 2020). “Radio Galau FM” and “Kata Hati” are major motion pictures. His short story “Goa Maria” appeared in the bilingual anthology of Indonesian writing Through Darkness to Light (Ubud Writers and Readers Festival 2013 & Hivos).

 

He spoke at Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2013, Makassar International Writers Festival (MIWF) 2013, ASEAN Literary Festival (ALF) 2015, Festival Sastra Banggai (FSB) 2017, Gramedia Writers and Readers Festival (GWRF) 2018, Kalimantan Barat Book Fair (KBF) 2018. 

 

He is now working on his new novels.

 

Contact him through: Whatsapp: +6287839894689Twitter & Instagram: @benzbara_, E-mail: benzbara89@gmail.com

His official website: www.bisikanbusuk.com


Comments

Ainun Mardhiah said…
Mas, saya sudah lama jadi pembaca setia blog sampean. Saya sekarang bekerja di penerbitan leutika di Jogja. Masnya apakah tertarik menerbitkan buku selanjutnya?
Halo mbak Ainun. Boleh saja. Mungkin bisa komunikasi via e-mail saya saja saya, di benzbara(at)gmail(dot)com

Terima kasih :)
ester p said…
masnya..puisi2nya bagus bener...nancep kayak paku ke kayu...
Unknown said…
hellooow mas bara. saya jatuh cinta loh ama novel novelnya pada pandangan pertama aaaaaaa keep creating yes mas buat dapetin inspirasi inspirasi yg lebih ulala membahana *ala syahrini*
pijar88 said…
Mantab Blognya Mas...
Annesya said…
halo, bara. semoga sukses dengan novel Cinta (dengan titik).
terima kasih sudah mampir. :)
Unknown said…
dah baca bukunya kata hati,,, salut dah cwo bsa paham ttg cinta. keren dah.........kyk pengalaman pribadi
dewi: terima kasih sudah membaca ya.
Unknown said…
mas, aku udah baca novel2nya.. aku suka novel surat untuk ruth nya.. kok bisa sih bkin novelnya oke bgt? tapi sedih are nya meninggal :( Ditunggu novel selanjutnyaa
pengen banget jadi penulis, tapi susah buat ngumpulin niat :(( padahal suka nulis di blog. yakinkan gue dong bang! huhu
Dewi: Terima kasih. Saat ini saya sedang berjuang merampungkan naskah novel baru. :)
Yassintan: Hanya kamu sendiri yang bisa meyakinkan dirimu.
Unknown said…
Mas, kalau ketemu di Yogya. Ngobrol masalah nulis ya. Saya ingin belajar banyak dari Mas Bara. Thanks. :)
Unknown said…
novelnya bang bara kaya kisah nyata semua:D
Deni Widya said…
Bang bara ada tumblr nggak sih?
Raden Harry: Saya membuka kelas menulis fiksi bernama @kopdarfiksi sebulan sekali di Jogja. Kalau sedang di Jogja, silakan ikut saja.

Orri: Begitukah? :D

Deni: Saya tidak punya tumblr. Hanya web-blog ini.
Unknown said…
bang bara.. mampir ya ke blog ku. emang sih masih jelek tulisannya tapi bakal tersanjung kalo dikunjungi apalagi dikritisi bang bara :')
Unknown said…
Bang bara, aku ngikutin bgt novelnya dari awal. Aku suka banget sama novel-novelnya bang bara, dan aku juga ngefans bgt sama bang bara :D
kita punya tgl lahir yang sama :)
Terima kasih sudah mampir ya.
Eto Kwuta said…
Abang Bernard, Beberapa hari teakhir saya coba temukan blognya Abang. Ya, akhirnya dapat juga. Saya dapat melalui www.kupasbuku.com. Di situ, Abang Steve Elu mempublikasikan profil Abang. Terima kasih. Apa bisa saya akan mengunjungi Abang via email?
aminah masghon said…
Assalaamualaikum Bang Baraaa..
Aaaaaaaaaaaaiiiihhhhh, aku gak bisa nyembunyiin gimana senengnya aku Baaang..
Aku baru beli buku Jika Aku Milikmu lusa lalu, udah pesimis dulu, masih ada atau enggaknya di Gramed.. Daaaaann ternyata masih adaa
Yg bikin seneng adalaah, yang bikin kaget adalah, yang bikin aku pingin jingkrak-jingkrak di warung Mie adalah, di buku itu ada TTDnya Bang Baraaa... Huaaaaa seneng bangett ��������
Unknown said…
ASSALAMUALAIKUM BANG BARA...


aku dwi aku salah satu penggemar novel... tapi setelah baca novel" bang bara bikin aku jadi 100x lebih gemar ... hehhehe
oh iya setau aku bang bara suka buka latihan fiksi ya... kebetulan selain gemar baca aku juga suka banget nulis... tapi terkadang terhenti begitu saja ,,,, pengen bgt bisa belajar banyak soal nulis sma abang... gmn ya bang caranya .. akui tinggal di jakarta...

terima kasih
Aminah: Waalaikumsalam. Wah, kamu beruntung. Senang sekali mendengarnya. Terima kasih dan selamat membaca ya!

Tari: Waalaikumsalam. Aku senang mendengarnya. Kamu bisa ikut kelas-kelas menulisku kalau kebetulan lagi ada acara di Jakarta. Atau baca tulisan-tulisanku di blog ini tentang menulis.
Unknown said…
Bang, kopdarfiksi buat anak2 jakarta ada ngga ? :)
mutiarasani said…
kata-kata dalam novelnya, betul betul cocok buat yang lagi patah hati,
ya kayak saya ini, hehe (Kuaka dalam Bara)
Unknown said…
Assalamu'alaikum bang bara,
bang bara ini barista sekaligus penikmat kopi kah??
Achmad rivaldy said…
Saya kira menulis blogger hanya bertujuan membagikan artikel dengan mendapatkan banyak pengunjung . tetapi setelah saya mengunjungi blog ini saya baru tau bahwa menyampaikan isi hati dan menceritakan kegiatan sehari-hari dapat berkarya dan lebih terhubung dengan pembaca.
A B Perdana said…
Keknya udah lama banget nggak mampir kesini

Popular posts from this blog

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.                                                             

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.